Hukum & Kriminal

Nasabah Koperasi Bank BNI Mengamuk Di Pengadilan Negeri Siantar, “Miliaran Uang Kami Kau Tipu Rahmat”

PEMATANGSIANTAR.MEDIATRIAS.com – Usai persidangan, sontak puluhan ibu dan keluarga korban meneriaki terdakwa Rahmat saat keluar ruangan.

Suasana hiruk pikuk korban penipuan mengundang perhatian pengunjung dan Pegawai Pengadilan Kota Siantar, Senin (8/7) sekira jam 16.00 wib.

“Penipu kau rahmat, kami sudah tua begini tega kau tipu. Susah kami gara gara kelakuanmu rahmat, hasil keringat kami kau gelapkan. Kena azablah kau rahmat penipu. Miliaran rupiah kau tipu kami. Orang taat beragama kau bilang, rupanya kau penipu.” Suara teriakan para korban memecah keheningan sekitar ruangan persidangan.

Guna menghindari aksi nekad para korban yang telah tersulut emosi, sejumlah petugas mengawal terdakwa menuju mobil tahanan.

Tak tinggal diam, puluhan korban mengejar terdakwa hingga ke ruangan receptionis Pengadilan Negeri Kota Siantar, padahal terdakwa lainnya keluar dari ruangan tahanan lewat pintu biasa sering dilalui.

Sementara terdakwa Rahmat malah keluar melewati pintu recepcionist ketika hendak menaiki mobil tahanan. Ironisnya, terdakwa malah mengejek lalu melambaikan tangannya ke arah para korban.

“Kami berdoa, semoga hukuman berat dijatuhkan samamu rahmat penipu. Gak kau lihat kami sudah opung opung pun tega kau tipu. Hasil keringat kami kau gelapkan.”

“Sudah sengsara kami rahmat penipu, pak hakim berikan keadilan sama kami yang jadi korban ini. Bukan merasa bersalah, malah ngejek pula dia. Semoga didengar tuhan doa kami dan diberikan hukuman berat samamu” Teriak para korban takkala Rahmat tersenyum sambil melambaikan tangan.

Sebelumnya, berdasarkan keterangan sejumlah korban, perkara kasus penipuan nasabah Koperasi Swadharma Bank BNI Kota Siantar di tangani Jaksa Penuntut Umum Heri.

Diduga oknum jaksa ini melakukan kecurangan atas salah seorang korban yang tidak diikutsertakan menjadi saksi dalam persidangan. Buntutnya, para korban kembali melaporkan Rahmat hingga akhirnya kasus ini kembali bergulir ke meja hijau.

Saat dipertanyakan perihal digantinya Jaksa Penuntut Umum, Heri membenarkan bahwa sebelumnya ia menangani perkara kasus penipuan nasabah Koperasi Swadharma Bank BNI Kota Siantar. “Ia memang saya pernah menangani kasus penipuan ini,” jawab Heri Singkat.

Terkait persidangan ini, mengapa Heri tidak lagi sebagai Jaksa Penuntut Umum, pria berlensa berbaju coklat ini menyarankan agar langsung menanyakan kepada humas, “tanya saja langsung ke humas ya pak. Saya tidak lagi mengurusi persidangan ini,” ujarnya lagi.

Kembali dipertanyakan, apakah memang benar salah seorang korban ternyata tidak diikutsertakan sebagai saksi dipersidangan, apa dasar hukumnya, Heri menjawab, “tanya saja langsung ya pak ke bagian humas. Maaf ya pak langsung saja ke humas ya,” imbuhnya dengan raut wajah tidak senang akan pertanyaan kru media ini.

Masih dilokasi seputaran Pengadilan Negeri Siantar, sejumlah pengunjung yang menghadiri persidangan ini berharap agar kasus penipuan koperasi Bank BNI jangan ada main mata dengan petinggi persidangan.

Pasalnya, sebelumnya kasus penipuan ini telah digelar. Namun, karena salah seorang korban namanya tidak terlampir dalam berkas sebagai saksi, para korban kembali membuat laporan hingga akhirnya terdakwa berhasil ditangkap dan dipersidangkan.

“Sebagai warga kota siantar, kami berharap agar kasus ini jangan ada main mata. Buat bapak hakim, tegakkanlah hukum seadil adilnya, karena sebelumnya diduga ada kecurangan saat berkas perkara ini ditangani jaksa itu,” bilangnya sembari mengarahkan wajahnya ke Oknum Jaksa pria kurus berlensa.

“Kami akan kawal kasus persidangan ini sampai berakhir. Bila perlu kami buat lagi demon besar besaran terkait sejumlah petinggi bank ikut menikmati uang koperasi. Jangan sampai kepercayaan masyarakat terhadap bank ini hilang,” tandasya.

TIM

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker