Sorot Hukum

Penggandaan Surat Tanah, Status Mantan Pangulu Nagori Bangun Mengambang

SIMALUNGUN.MEDIATRIAS.com – Mantan Pangulu Nagori Bangun, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, Suparlik (55), hingga kini masih berstatus sebagai saksi terkait kasus penipuan penggandaan surat penyerahan hak tanah.

Penetapan status mantan pangulu ini terkait tertangkapnya Supadi (47) adiknya sendiri pada bulan November 2018 lalu atas laporan Sindhe (57), warga Nagori Bangun, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun.

Demikian ungkapan seorang warga Nagori Bangun, Ayung (41) saat dipertanyakan kru koran ini terkait status hukum mantan pangulu atas kasus dugaan penggandaan surat penyerahan hak tanah, Jumat (5/7) sekira jam 15.00 wib.

“Kasus penggandaan penyerahan hak tanah kemarin, hingga kini suparlik belum jelas statusnya bang. Khabarnya masih sebatas saksi dan tidak menutup kemungkinan akan ditetapkan sebagai tersangka dia.

Menurut Ayung, beredar isu tiga saksi telah diperiksa Unit Ekonomi Polres Simalungun untuk menjerat mantan pangulu menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan kelas II A, jalan Asahan.

“Khabarnya telah tiga orang diperiksa, termasuk diantaranya mantan sekdes nagori bangun. Kalau gak salah nama mantan sekdes bang buyung dan sekarang beliau telah pindah tugas ke kantor camat gunung malela. Atau abang tanya langsung sama beliau,” beber Ayung.

Selain mantan pangulu, khabarnya turut juga diperiksa sebagai saksi guna mengungkap pelaku utama penggandaan penyerahan kuasa tanah yakni PLH Pangulu Edy Dharmansyah serta dua orang saksi lainnya B Purba dan Ibu Komeljid.

“PLH pangulu Edy Dharmansyah ikut juga diperiksa bang bersama B Purba dan Ibu Komeljid guna mengungkap kasus tanah itu. Semoga terungkap siapa pelaku utama penipuan penggandaan surat penyerahan hak tanah.” Kata MD menimpali keterangan Ayung.

Sebelumnya pemeriksaan Suparlik ditetapkan sebagai saksi atas kasus yang menjerat adiknya setelah adiknya tertangkap karena tersandung kasus penipuan penggandaan surat penyerahan hak tanah, (18/11/2018) lalu.

Menurut mantan pangulu, akibat penggandaan surat penyerahan hak tanah, delapan orang sebagai korban mengalami kerugian materi, jika di total mencapai Rp 3.5 M. Bahkan masih banyak lagi korban lain yang akan terungkap sejak tersangka berhasil di tangkap

“Surat alas hak tanah di gandakannya menjadi 8 surat. Seluruh surat itu diperjual belikan adik pangulu Supadi. Namun setelah menjual tanah kepada Sindhe, surat alas hak asli diserahkan padanya,”

“Ketika tanah itu hendak dikerjakan Sindhe, delapan orang pembeli lainnya yang tidak saling mengetahui tanah tersebut memiliki 9 surat, akhirnya protes,” “ungkap SD menirukan keterangan mantan pangulu.

Semenjak kasus penipuan ini naik ke permukaan, delapan korban termasuk Sindhe akhirnya sepakat membuat laporan resmi ke Pihak Kepolisian.

Kanit Ekonomi Polres Simalungun Ipda Panji belum berhasil dikonfirmasi mengenai status mantan pangulu dan bagaiman pemeriksaan saksi lainnya seperti PLH pangulu dan Mantan Sekdes.

Tim

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker