Anggota TNI Lantunkan Azan Secara Virtual Untuk Bayinya yang Baru Lahir

  • Whatsapp

SUKAHARJO,MEDIATRIAS.com Kelahiran buah hati merupakan sebuah momen yang ditunggu-tunggu pasangan suami istri. Begitu juga dengan Prajurit Kepala (Praka) Saiful Zuhri yang menantikan kelahiran sang buah hati. Namun dirinya terpaksa harus meninggalkan sang istri karena tugas negara.

Hal itu membuat kelahiran sang buah hati pertama mereka tak dapat disaksikannya secara langsung. Bahkan, ia harus melihat putri kecilnya secara virtual.

Bacaan Lainnya

Saat bertemu untuk pertama kali, Saiful langsung melantunkan azan di telinga sang buah hati melalui gawainya. Isak tangis bahagia pun mengiringi suaranya saat melantunkan azan untuk bayi mungil tersebut.

Mendapatkan Kabar dari Kawan

Dirangkum dari akun Instagram @galeri.prajurit.tni, Saiful merupakan Prajurit Satgas Yonif Mekanis Raider 413 Kostrad yang saat ini tengah berjuang di Tugas Operasi Perbatasan RI-PNG di Provinsi Papua. Kelahiran sang putri pertamanya tersebut didapatkannya melalui kawan di asramanya yang memberi kabar bahagia tersebut.

Diiringi Isak Tangis

Mendengar kabar bahwa putri kecilnya tersebut lahir dalam kondisi sehat dan selamat, isak tangis pun nampak tak terbendung di kedua matanya sembari tak hentinya mengucapkan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa. Kondisi sang istri diketahui juga dalam keadaan sehat usai melahirkan bayi cantik pada Selasa (15/9) sekitar pukul 21.49 WIB di Sukaharjo, Jawa Tengah.

Langsung Lantunkan Adzan

Sesaat setelah mendengar kabar bahagia tersebut, Saiful lantas menghubungi sang istri untuk mengetahui kondisi kedua orang yang menjadi tumpuan hidupnya itu. Tak dapat berada di dekatnya, Saiful diketahui langsung melantunkan azan di telinga bayi perempuannya melalui video call.
Momen tersebut menjadi penuh isak tangis haru lantaran pertemuan pertama seorang ayah dan putrinya yang baru lahir tersebut harus melalui video call.

Merasa Berat Meninggalkan Istri

Sebelum bertugas di perbatasan Papua, Saiful mengaku bahwa ia merasa berat untuk meninggalkan sang istri tercinta yang tengah mengandung putri mereka. Terlebih, saat itu usia kandungan sang istri terbilang sudah cukup tua.

“Jujur saya berat untuk meninggalkan istri dalam kondisi hamil tua, tapi di sisi lain negara sedang membutuhkan saya dan saya harus menunaikan janji saya sebagai prajurit sejati,” ujarnya.

Dukungan dari Banyak Orang

Meskipun demikian, Saiful mendapatkan banyak dukungan moral dari orang-orang di sekitarnya. Dari mulai kawan seperjuangannya bertugas hingga para tetangga asrama tempat sang istri tinggal.
“Rekan-rekan di pos sering menanyakan kondisi istri saya apalagi Komandan Kompi yang berada satu pos dengan saya selalu bertanya apakah hari ini saya sudah menghubungi istri atau belum. Ditambah dengan banyaknya bantuan dari para tetangga di asrama kepada istri saya yang membuat saya sedikit lebih tenang memikirkannya,” sambungnya.(red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *