Bakti Sosial Yayasan MPPI Batam Bagikan Masker Dan Sanitizer Ke Masyarakat Perbatasan

  • Whatsapp

BATAM,MEDIATRIAS.com – Yayasan Masyarakat Peduli Perbatasan Indonesia (MPPI) melakukan kunjungan ke Pulau Terung, Kecamatan Belakangpadang, Selasa (24/11/2020) siang.

Kunjungan itu dalam rangka bhakti sosial menghadapi Covid-19 dengan melakukan pembagian masker dan cairan hand sanitizer kepada tokoh masyarkat pulau perbatasan Indonesia – Singapura – Malaysia.

Bacaan Lainnya

“Bakti sosial ini merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah. Pembagian masker guna mengajak masyarakat di pulau untuk tetap hidup sehat dengan mematuhi protokol kesehatan,” ujar perwakilan MPPI Batam, Iyan.

Ia mengatakan, masyarakat harus sadar dengan bahaya penyebaran virus corona di tengah lingkungan, meskipun di daerah hinterlend. Untuk itu, masker dan cairan hand sanitizer yang diberikan diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat akan penting kesehatan.

“Kami harap protokol kesehatan tetap dijalankan oleh masyarakat. Dan bantuan bhakti sosial MPPI dapat digunakan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Sementara itu ketua RW01 pulau Terung, Saleh mengaku saat ini ada sekitar 300 kartu keluarga (KK) yang berdomisili di Pulau Terung. Pulau Terung merupakan wilayah yang sangat jauh dari Kota Batam atau dekat dengan perbatasan. Saat ini warga sangat kesulitan apabila ada masyarakat yang sakit atau dalam keadaan darurat.

“Listrik dan jaringan tidak ada masalah. Hanya saja kita tidak memiliki ambulan laut yang sangat diperlukan warga. Pulau Terung ini keluaran terjauh dari Kota Batam. Kami sangat khawatir ketika ada warga yang sakit atau dalam keadaan darurat. Karena di Pulau Terung tidak memiliki puskesmas yang memadai dari segi fasilitas maupun tenaga media,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada perwakilan MPPI Batam yang turut serta peduli kepada masyarakat perbatasan. “Kami ucapkan terima kasih atas kepedulian kawan-kawan MPPI. Bantuan dan himbauan yang disampaikan akan kami manfaatkan sebaik mungkin dalam menjaga kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

Selain itu Muhammad bin Boyan Ketua Lembaga Pemberdayaan masyarakat (LPM) Kelurahan Pulau Terong, Kecamatan Belakang mengaku sangat menghawatirkan dengan keselamatan para nelayan perbatasan Indonesia – Singapura dan Malaysia. Pasalnya tidak ada rambu-rambu batas wilayah negara Indonesia dengan Singapura maupun Malaysia.

“Nelayan kita kerap kali diusir oleh polisi Singapura pada saat memancing. Padahal secara pendapat para nelayan sejak nenek moyang, lokasi mereka memancing masih wilayah Indonesia. Tetapi dengan adanya penimbunan laut oleh Singapura dan pembangunan garis batas perbatasan semakin maju ke depan,” ujar Muhammad. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *