Musibah Demokrasi jika Calon yang punya Otak Melawan Calon yang Hanya Punya Kotak

  • Whatsapp

BINTAN,MEDIATRIAS.com  Sejatinya demokrasi untuk mewujudkan kehendak rakyat yang telah diamanahkan kepada elit politik, dijalankan sebagaimana yang dikehendaki masyarakat, jangan sampai berpotensi bergeser menjadi demokrasi untuk kepentingan individu atau sekelompok.

Jika benar dalam pilkada Bintan hanya ada 1 calon, maka ini adalah sejarah perseden buruk pesta demoktasi pilkada Bintan sehingga akan menimbulkan apatisme ditengah masyarakat. Karena masyarakat tidak diberikan untuk memilih calon pemimpinnya maka ini adalah musibah sejarah terburuk dalam demokrasi.

Bacaan Lainnya

Pesta demokrasi semacam ini jika benar terjadi, bisa dikatakan partai politik dibintan tidak memiliki rekruitmen kader politik yang baik, partai politik ini terkesan bersifat pragmatis bagaimana untuk menekan pilihan kepada masyarakat, tidak adanya figur yang bisa dijual atau ditawarkan kemasyarakat.

Seyoganya partai politik sebagai saluran yang diamanahkan oleh negara untuk menawarkan calon-calon pemimpin kepada masyarakat ini harusnya bisa memberikan pilihan terbaik, tidak kemudian tidak memiliki salah satu figur yang  bisa ditawarkan kepada masyarakat.

Maka kita melihat tidak ada sistem rekruitmen yang baik di partai politik menyebabkan terkesan lebih pragmatis. Hanya melihat kepentingan jangka pendek dalam event pesta demokrasi semacam pilkada, sungguh tidak logis jika pemilihan pada calon yang punya otak melawan calon yang hanya punya kotak.

Kemudian perlu adanya sama-sama memberikan input ulang kepada pemerintah dalam menentukan regulasi pesta demokrasi bahwa batas ambang pencalonan memberikan sumbangsih yang besar, sebab angka 20 persen dari jumlah kursi parlemen sebagai ambang batas. Justru hal ini partai politik menjadi terpasung untuk mengusulkan kader terbaiknya. Hal seperti ini mematikan inisiatif dan melahirkan figur-figur yang tidak dikehendaki oleh masyarakat.

Begitu juga dengan figur calon independen  yang menurut saya dibebani dengan aturan yang berat terhadap syarat dukungan. Sehingga hal ini menjadi tidak produktif, apalagi dilakukan verifikasi secara faktual dengan sistem yang begitu rejik yang dimungkinkan bertujuan untuk menekan calon tunggal agar tidak bisa ikut dalam kontestan pilkada.

Banyak faktor yang menyebabkan calon tunggal menjadi fakta yang tidak terbantahkan yang kemudian muncul ditengah masyarakat, belum lagi mucul kekhawaritan yang berlebihan serta didukung sumber daya yang cukup sehingga menyebabkan pasangan calon tertentu mengusahakan sedemikian mungkin agar tidak ada calon lain yang akan maju dalam pencalonan itu. Jika benar ini terjadi maka demokrasi di Bintan akan binasa atau demokrasi hanya tinggal cerita-cerita saja yang sudah dirusak oleh kekuasaan dan kehausan politik.

Oleh karena itu, kontestasi yang sehat dan fear itu  akan terwujud ketika ada pilihan  kepada masyarakat untuk menentukan pilihannya pada even pemilihan kepala daerah, tanpa figur yang cukup ditentukan oleh masyarakat atau tanpa figur yang hanya 1 calon hal ini akan membuat  masyarakat menjadi lebih apatis karena tidak ada pilihan lain, sehingga yang dikawatirkan adalah ketika masyarakat  akan memilih kotak kosong.

Dalam logika berfikir demokrasi, jika calon tunggal dihadapkan dengan kotak kosong dan yang menang adalah kotak kosong, maka calon pemimpin kedepan adalah kotak kosong. Namun tidak mungkin kotak kosong akan menjadi kepala daerah, seolah-olah bangsa kita menjadi bangsa yang bodoh. Dikatakan dengan melaksanakan pemilihan kepala daerah tapi dalam proses tidak ada pemilihan, kalaupun ada pemilihan masa iya pasangan calon manusia melawan kotak kosong, menurut saya ini adalah aneh.

Secara regulasi kedepan hal ini harus difikirkan, begitu juga partai politik harus menyiapkan mekanisme rekruitmen kader,  pembinaan kader secara berjenjang dan secara sistematis sehingga mereka akan menghasilkan kader-kader internal partai yang mumpuni serta mepunyai integritas dan kapasitas yang baik, sehingga pada saatnya mereka mampu ditawarkan kemasyarakat untuk menjadi pilihan baik itu pemilihan legislatif maupun pilkada.

Disini saya menghimbau kepada partai politik untuk melakukan evaluasi secara internal, pentingnya kehidupan berdemokrasi dan bernegara. Berikanlah pendidikan yang terbaik kepada masyarakat sembari menunggu batas waktu yang diberikan oleh aturan yang ada dalam proses pengajuan calon-calon pasangan yang akan bertarung pada kontstasi politik pada pesta demokrasi pilkada di Bintan, jangan sampai pada batas akhir pendaftaran pilkada hanya 1 calon yang akan bertarung, jika ini terjadi makan kita akan ditontonkan demokasi yang tidak baik.

Memang secara logika sah-sah saja masyarakat berkampanye agar memilih kotak kosong, Karena pilihan yang hadirkan masyarakat oleh KPU itu adalah kotak kosong sehingga tidak ada salahnya, ada tim sukses yang mengkampanyekan  kotak kosong dan itu tidak boleh dilarang. Oleh karena itu hal ini yang harus difikirkan, secara regulasi, dikanalisasi dan diantisipasi bagaimana hal itu tidak terjadi.

Dari sisi anggaran, negara seperti kehilangan akal, padahal begitu banyak anggaran digelontorkan untuk pelaksanaan pilkada, apakah iya dalam pelasanaanya hanya 1 calon saja melawan kotak kosong. Oleh sebab itu kepada elit partai politik  berikanlah masyarakat edukasi politik yang baik, jadikan politik yang memiliki integritas dan berkualitas ditengah masyarakat.

Oleh, Suryadi, M.H

Dosen Umrah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *